Misteri Alam Semesta Tentang Umur Bumi

NewsG – Hari ini pada tanggal 22 April semua orang memperingati hari ulang tahun Bumi. Tahukah anda sekiranya sudah seberapa tua umur dari Bumi kita?

Planet kita tidak memiliki data dan akta kelahiran untuk mencatat pembentukannya. Sehingga para ilmuwan melakukan penelitian dan menghabiskan ratusan tahun untuk menentukan usianya. Jadi, berapa umur Bumi?

Baca juga : Genshin Impact Bakal Segera Resmi Rilis Dalam Versi PS5

Para ilmuwan telah menghitung bahwa umur Bumi di perkirakan telah berusia 4,54 miliar tahun, dengan rentang kesalahan 50 juta tahun. Perhitungan usia tersebut di teliti berdasarkan usia batuan di kerak Bumi yang terus berubah, serta batuan di tetangga Bumi, seperti Bulan dan meteorit yang berkunjung.

Melalui Bebatuan di Bumi

Dikutip dari Space, Kamis (22/4/2021) proses usaha yang dilakukan dalam menentukan usia planet ini para ilmuwan telah menghabiskan waktu selama 400 tahun terakhir. Mereka mencoba untuk memprediksi usia berdasarkan perubahan permukaan laut, waktu yang dibutuhkan Bumi atau Matahari untuk mendingin dan menyajikan suhu, serta salinitas laut.

Namun dengan seiring kemajuan teknologi penanggalan, metode ini terbukti tidak dapat diandalkan. Karena dalam beberapa hal bisa berkontribusi pada kesalahan penghitungan. Misalnya, naik turunnya lautan terbukti sebagai proses yang selalu berubah, bukannya menurun secara bertahap.

Bukan hanya itu saja, upaya lain juga dilakukan dalam meneliti usia planet. Para ilmuwan beralih ke bebatuan yang menutupi permukaannya. Namun, karena lempeng tektonik terus-menerus mengubah kerak Bumi, batuan pertama telah lama didaur ulang, dilebur, dan dibentuk kembali menjadi formasi batuan baru.

Penelitian tidak berjalan mulus dimana Ilmuwan juga harus melawan masalah yang disebut Great Unconformity, di mana lapisan batuan sedimen tampaknya hilang (di Grand Canyon misalnya, ada batuan 1,2 miliar tahun yang tidak dapat ditemukan).

Ada beberapa penjelasan untuk ketidaksesuaian ini. Pada awal 2019, sebuah penelitian menunjukkan bahwa zaman es global menyebabkan gletser menggiling batu dan menyebabkannya hancur. Lempeng tektonik kemudian melemparkan batu yang hancur kembali ke bagian dalam Bumi, menghilangkan bukti lama dan mengubahnya menjadi batuan baru.

Pada awal abad ke-20, para ilmuwan menyempurnakan proses penanggalan radiometrik. Penelitian pada awal mulanya telah menunjukkan bahwa isotop dari beberapa perihal radioaktif meluruh jadi aspek lain dengan kecepatan yang dapat diprediksi.

Dengan mengecek unsur-unsur yang ada, para ilmuwan dapat menghitung jumlah awal unsur radioaktif, dan dengan demikian berapa lama unsur-unsur tersebut membusuk, sehingga mengizinkan mereka memungkinkan mereka untuk menentukan usia batuan.

Batuan tertua di Bumi yang ditemukan hingga saat ini yaitu Acasta Gneiss di barat laut Kanada dekat Great Slave Lake, yang berumur 4,03 miliar Tahun. Namun bebatuan yang berumur lebih dari 3,5 miliar tahun dapat ditemukan di seluruh benua.

Greenland membanggakan batuan supracrustal Isua miliknya yang diperkirakan berumur 3,7 hingga 3,8 miliar tahun, sedangkan batuan di Swaziland berumur 3,4 hingga 3,5 miliar tahun. Tidak hanya itu ada juga sampel di Australia Barat berusia 3,4 miliar hingga 3,6 miliar tahun.

Grup peneliti di Australia menemukan butiran mineral tertua di Bumi. Kristal zirkonium silikat kecil ini memiliki usia yang mencapai 4,3 miliar Th, menjadikannya bahan tertua yang ditemukan di Bumi sejauh ini. Tetapi batuan sumbernya sendiri belum ditemukan. Batuan dan zirkon menetapkan batas bawah usia Bumi 4,3 miliar tahun, karena planet itu sendiri tentu lebih tua dari apa pun yang ada di permukaannya.

Kapan kehidupan muncul di Bumi, masih diperdebatkan. Terutama karena beberapa fosil purba dapat muncul sebagai bentuk batuan alami. Beberapa bentuk kehidupan paling awal telah ditemukan di Australia Barat, seperti yang diumumkan dalam penelitian tahun 2018.

Para peneliti menemukan filamen kecil di batuan berumur 3,4 miliar tahun yang bisa jadi fosil. Penelitian lain menunjukkan bahwa kehidupan bermula lebih awal. Tabung hematit di batuan vulkanik di Quebec bisa saja memasukkan mikroba antara 3,77 dan 4,29 miliar th yang lalu. Para peneliti yang mengamati bebatuan di Greenland barat daya juga menyaksikan struktur serupa kerucut yang mengelilingi koloni mikroba sekitar 3,7 miliar tahun lalu.

Melalui Sistem dari tetangga Bumi

Untuk lebih jauh memastikan dalam menyempurnakan usia Bumi, para ilmuwan mulai melihat ke luar. Materi yang membentuk tata surya adalah awan debu dan gas yang mengelilingi Matahari muda.

Dengan mempelajari benda-benda lain di tata surya, para ilmuwan dapat mengetahui lebih banyak tentang sejarah awal planet ini. Interaksi gravitasi menggabungkan materi ini menjadi planet dan Bulan pada waktu yang hampir bersamaan.

Benda terdekat ke Bumi, Bulan, tidak mengalami proses pelapisan kembali yang berjalan di seluruh lanskap Bumi. Dengan Begitu, batuan dari histori awal Bulan masih berada di permukaan Bulan. Sampel yang dikembalikan dari misi Apollo dan Luna mengungkapkan usianya antara 4,4 miliar dan 4,5 miliar Th, maka membantu memberi rentang batas usia Bumi.

Bagaimana Bulan terbentuk, juga masih menjadi perdebatan. Teori yang paling dominan menyatakan bahwa benda seukuran Mars menabrak Bumi dan pecahannya akhirnya menyatu ke Bulan. Teori lainnya menyatakan bahwa Bulan terbentuk sebelum Bumi.

Tidak cuma benda-benda besar tata surya, para ilmuwan telah mempelajari pengunjung berbatu yang lebih kecil yang jatuh ke Bumi. Meteorit muncul dari beragam sumber. Beberapa terlempar dari planet lain setelah tabrakan dahsyat, sementara yang lain ialah bagian sisa dari tata surya awal yang tidak sempat tumbuh cukup besar untuk menempa badan yang kohesif.

Walau tidak ada batuan yang dengan sengaja dikembalikan dari Mars, sampel yang ada dalam bentuk meteorit yang jatuh ke Bumi sejak lama, mengizinkan para ilmuwan membuat perkiraan tentang usia batuan di Planet Merah tersebut. Beberapa dari sampel ini bertanggal 4,5 miliar tahun, maka mensupport kalkulasi lain tentang tanggal awal pembentukan Bumi. Lebih dari 70 meteorit yang jatuh ke Bumi telah dihitung usianya dengan penanggalan radiometrik. Yang tertua berumur antara 4,4 miliar dan 4,5 miliar tahun.

Lima puluh ribu tahun yang lalu, suatu batu terlempar dari luar angkasa menempa Kawah Meteor di Arizona. Pecahan asteroid itu telah dikumpulkan dari pinggir kawah dan dinamai Canyon Diablo sesuai dengan nama Ngarai Diablo di dekatnya. Meteorit Canyon Diablo penting karena mewakili kelas meteorit dengan komponen yang memungkikan penanggalan yang lebih tepat.

Pada tahun 1953, Clair Cameron Patterson, ahli geokimia ternama di Institut Teknologi California, mengukur rasio isotop timbal dalam sampel meteorit yang membatasi rentang usia Bumi.

Sampel meteorit menunjukkan penyebaran dari 4,53 miliar hingga 4,58 miliar tahun. Para ilmuwan menafsirkan kisaran ini sebagai waktu yang dibutuhkan tata surya buat berkembang, peristiwa bertahap yang terjadi selama kurang lebih 50 juta tahun.

Para ilmuwan telah memperkirakan usia Bumi sekitar 4,54 miliar tahun dengan berbagai macam upaya penelitian. Tidak hanya melalui bebatuan di Bumi tetapi juga melalui sistem yang mengelilinginya. Sebagai perbandingan, galaksi Bima Sakti yang memuat tata surya berusia kira-kira 13,2 miliar tahun, sedangkan alam semesta sendiri berumur 13,8 miliar tahun.

Source : https://inet.detik.com/science/d-5541813/misteri-umur-bumi-yang-sebenarnya/2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *